Jumaat, 31 Disember 2010

SAHABAT SEPERJUANGAN.

salam rindu buat sahabat-sahabatku.,

semoga ukhuwah kita yang di bina kerana ALLAH kekal hingga ke syurga.,
doakan juga semoga kita istiqhomah dalam pejuangan islam ...amenn....TAKBIR

n masa majlis khatam quran.,tp susah btul nak ingat

kelas tasmi'

geng LADAR

syareef

usrah mujahidin ..rindunya sahabat-sahabat

malam sambutan kemerdekaan...rush orang kat kl

nasyid syareef

malam perpisahan darul quran

Ahad, 26 Disember 2010

PEMIKIRAN ORANG SUFI









SALAM PALESTIN,

KINI PENULIS INGIN BERKONGSI DENGAN SAHABAT SEKALIAN TENTANG HAKIKAT TASAUF YANG DI HARAPKAN  DAN BANYAK ORANG YANG KELIRU DENGAN TASAUF....DENGAN USAHA YANG SEDIKIT INI DAPAT KITA BAIKI BERSAMA DIRI YANG HINA INI.......

Mengapa kita bertasawuf...?
Ketahuilah bahwa agama yang hak adalah ubat untuk semua penyakit (intelektual, moral dan sosial), karena ia sebuah akal yang lurus sekaligus spiritual yang hidup. Adapun penimbunan teori serta kemiskinan spiritual yang luhur dan kemiskinan emosional mulia sekali-kali bukanlah sebuah agama yang sah.
Maka soalan yang harus kita jawab adalah:
  1. Bagaimana kita merealisasikan agama ini?
  2. Bagaimana kita menghidupkan di dalam hati perasaan akan keperkasaan Allah swt dan ketundukan terhadap keagungan-Nya?
  3. Bagaimana kita membuat keyakinan berubah dari dangkal menjadi dalam?
  4. Bagaimana kita merubah ma'rifat kepada Allah menjadi sebuah rasa manis (dzauq) dan membentuk kelembutan jiwa sekaligus membersihkan kekeruhan fikiran?
  5. Bagaimana kita membuat perasaan rindu seseorang kepada Penciptanya, karena dengan motif dari perasaan rindu dapat membuat ia taat dan segera mencari keredhaan-Nya?
  6. Bagaimana seorang itu dapat menyaksikan Allah di langit dan bumi, menyaksikan nama-nama-Nya yang indah pada gerak gerik dan seluruh tingkah laku yang terjadi di sepanjang waktu dan tempat?
Sebab iman tidak sempurna dan agama tidak produktif melainkan jika kita dapat menjawab dengan baik pertanyaan di atas.
Kita faham bahwa ilmu-ilmu Syariah dapat membantu menjelaskan misi Islam dan memposisikan manusia pada batas-batas dan hak-haknya, namun kira-kira ilmu manakah yang memberikan perhatian terhadap pertanyaan tersebut serta membahas jawabannya secara panjang lebar..?
Siapapun boleh menolak untuk masuk ke dalam kelompok tasawuf serta mengambil seluruh isi jawapan di atas, akan tetapi sikap adil-lah yang mendorong kita untuk mengatakan bahwa sektor pendidikan (spiritual) Islam penting ini tidak mendapat perhatian yang sepatutnya daripada majoriti ulama fiqih dan para teologi (tauhid), sedangkan tokoh-tokoh tasawuf –walaupun terdapat beberapa kesalahan- merekalah yang banyak membicarakan panjang lebar sektor ini, bahkan memberikan jawapan mendalam dan sempurna.

Apa itu Tasawuf..?
            Tasawuf adalah sebuah program pendidikan yang berorientasi membersihkan jiwa (nafsu) dari berbagai penyakit yang menjadi penghalang manusia dari Allah SWT serta meluruskan penyimpangan nafsu dan prilaku yang berkaitan dengan hubungan kepada Allah, sesama makhluk dan diri sendiri.
            Tasawuf juga sebuah metod tarbiyah ruhiyah yang dapat meningkatkan seorang muslim mencapai martabat Ihsan yang didefinisikan oleh Nabi Muhammad SAW: “Engkau beribadah seolah-olah engkau melihat Allah, jika tidak melihatNYA maka IA melihatmu”.
Dari gambaran ini dapat difahami bahwa di dalam kehidupan islam jika disebut Tasawuf maka mengandung dua pengertian:
1.      Ilmu Mua’amalah dalam menempuh (suluk) jalan menuju kepda Allah. Disebut juga tarbiyah ruhiyah, perbaikan hati dan mengubati penyakit intelektual, demi memperoleh kebahagiaan abadi. Proses tarbiyah ini dilakukan dalam dua tingkatan iaitu, Ibadah dan mujahadah. Dua hal ini dijelaskan oleh dalil-dalil agama yang jelas dalam Alquran dan Hadis serta wajib dilakukan bagi semua orang yang ingin berjalan mendekatkan diri dan sampai kepada Allah.
Imam As Syadzili ra. berkata: Tasawuf adalah melatih nafsu di atas ubudiyah dan mengembalikannya kepada hukum Rububiyah.
2.      Ilmu Mukasyafah. Yaitu dzauq, maqamat dan sebuah keterbukaan (kasyaf) yang nampak kepada salik akibat dari upaya ibadah dan mujahadah yang jujur, ikhlas dan penuh mahabbah. Makna khusus ini sifatnya individual tidak umum, setiap salik akan mendapatkanya masing-masing berbeza, sesuai dengan tingkat kesiapan, kejujuran dan mujahadahnya.
            Imam Hasan Al Bana berkata: Lakukanlah yang kewajiban (wajib) akan datang kepada pemberian (wahb).

Bagaimana bertasawuf..?
            Sebagaimana yang telah kita fahami bahwa tasawuf adalah program dan metod pendidikan ruhiyah, maka tasawuf memiliki madrasah untuk merealisasikan program tersebut, memiliki pembahasan utama yang wajib kita ketahui, metod yang wajib diterapkan dan memiliki tingkatan-tingkatan yang harus ditempuh, sehingga menghasilkan pelbagai buah ruhiyah yang akan dipetik oleh para salikin.
            Maka wajib bagi orang yang hendak bertasawuf mengambil ilmu ini dari sumbernya, berguru kepada ahlinya, meminum dari masyrabnya dan menempuh tingkatan-tingkatan tarbiyah sehingga ia mencapai sebagaimana yang telah dicapai pendahulunya, memperoleh dan sampai kepada tujuan; karena ilmu ini tidak dapat diambil dari buku akan tetapi diambil dari ahlinya, tidak diambil dari ceramah dan membaca, akan tetapi diambil melalui khidmat dan bersuhbah kepada para syuyukh.
            Abu Ali Ats Tsaqafi berkata: Andaikan seseorang menghimpun pelbagai ilmu dan berteman kepada semua orang tanpa melakukan riyadhah dari seorang syekh murabbi yang mentarbiyahnya maka tidak akan mencapai seperti yang mereka capai....”.
POKOK PERBAHASAN TASAWUF
            Ada dua pembahasan utama tasawuf yaitu Nafsu dan Rabb (Tuhan). Karena kunci mengenal Allah adalah dengan mengenal diri.
Allah SWT berfirman:
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa Sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?”. (QS. Fushilat: 53)
Rasulullah S.A.W bersabda: “Barangsiapa mengenal dirinya maka dia mengenal Tuhannya”.

1)             Latifah Rabbaniyah Nuraniyyah (Roh, qalbu, aqal, dan nafsu).
A)     ROH
Pembicaraan tasawwuf tentang roh, hanya meliputi dua hal, iaitu bagaimana mengembalikan roh kepada asal ma’rifatnya, dan mengembalikannya kepada kesempurnaan ‘ubudiyah. Kerana roh pada asal penciptaannya mengenal Allah, tetapi setelah bercampur jasad maka hilang ma’rifat dan ‘ubudiyahnya. Sebagaimana sabda Rasulullah S.A.W.:
      “Setiap bayi dilahirkan didalam fitrah, maka kedua ibubapanya yang meyahudikan, menasranikan, atau memajusikannya”.
Dalam hal ini, orang-orang sufi mengembalikan roh melalui beberapa cara:
-          Mengenal Allah dan sifatNya dan mengetahui cara ibadat yang ikhlas.
-          Bersahabat dengan orang-orang soleh. (Rujuk surah al-Furqan, 59)
-          Banyak berzikir. (Rujuk surah al-Ahzab, 41)

B)     Qalbu
Al-Quran banyak berbicara berkenaan hati. Ada hati yang sakit (Rujuk al-Baqarah, 210). Hati yang buta (rujuk al-Hajj, 46). Hati yang keras (rujuk al-Hajj, 53). Hati yang tertutup (rujuk al-Baqarah, 7), dan lain-lain dan juga pada hadith-hadith.
Tasawuf berbicara panjang lebar berkenaan masalah hati, dan berupaya untuk mengubati dan memperbaiki hati iaitu: dengan ilmu, agar mengetahui hati yang sihat ataupun sakit; dengan amal, berupaya untuk mengubatinya, dan dengan suhbah, agar memiliki semangat dalam menempuh jalan menuju kepada Allah dengan berterusan.

C)     Aqal
Dalam terminologi islam, aqal terbahagi dua: Aqal taklif ialah aqal yang dimiliki semua manusia selama mana dia tidak gila, dengan aqal ini manusia ditaklif dan dihisab serta dipertanggungjawab atas amalannya dihadapan Allah. Adapun aqal syar’i adalah mereka yang memahami Allah dan kalamNya kemudiannya beriman dan berpegang teguh. Maka tasawuf membahaskan bagaimana cara memahami Allah dan mengawal hawa nafsu serta mentarbiahnya.

D)     Nafsu
Nafsu terbahagi kepada dua, Nafsu syahwah iaitu sifat bahimah (kebinatangan) dan nafsu marah, sifat Sabu’iiyah (kebuasan). Penyakit nafsu, banyak sekali dan syari’at  datang untuk meluruskannya. Rasulullah bersabda, “orang yang mujahid adalah orang yang memerangi nafsunya kerana Allah” (rujuk surah an-Nazi’at, 41).

2)      Ma’rifat
Ma’rifat ertinya mengenal suatu yang global dengan cara terperinci. Mengenal Allah didalam ilmu tauhid biasanya mengenal dalil-dalil, sifat dan asma(nama) Allah. Adapun tasawuf merealisasikannya kedalam diri sehingga dia merasakan semua sifat dan asma’ Allah dalam kehidupan nyata. Berdasarkan hal ini, orang sufi membahagikan kepada tiga tingkatan:
a.      Ma’rifat awam- mengenal Allah berdasarkan dalil, sehingga bebas daripada bahaya taklid.
b.      Ma’rifat khas- mengenal Allah dengan mujahadah dan zhauq, caranya dengan mengisikan semua waktu dengan ibadah, membersihkan nafsu dari penyakit, dan menyibukkan hati dengan muraqabah Allah, serta mengikuti irsyad sheikh, atau dengan kata lain “takhalli dan tahalli”, sehingga terbit dari hatinya cahaya mengenal Allah yang dirasakan di dalam hatinya.
c.       Ma’rifat khas al khas, mengenal Allah dengan syuhud dan fana, yaitu mengenal berbagai rahsia dzat Yang Maha Luhur atau disebut menyaksikan Allah dengan Allah.


METOD TARBIYAH TAREKAT SUFI
Tarekat Sufi adalah madrasah yang melaksanakan program dan metod tarbiyah dan suluk, di dalamnya terdapat syekh, murid dan metod praktikal tarbiah, maka madrasah ini harus berpegang kepada Alquran, Hadis dan beramal sesuai dengan syariah untuk mencapai hakikat.
Adapun method tarbiah yang digunakan didalam madrasah ini adalah:
1)      Ilmu.
2)      Suhbah.
3)      Zikir.
4)      Mujahadah.

PERINGKAT-PERINGKAT TARBIYAH UNTUK SAMPAI KEPADA ALLAH
Tariqat ini umpama perjalanan, perjalanan khusus yang ditempuh oleh salik(murid) yang berjalan menuju kepada Allah. Perjalanan ini adalah perjalanan haqiqi dan ma’nawi, iaitu dengan membersihkan jiwa dari kemungkaran dan penyakit, untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Maka perjalanan harus memiliki tiga hal: bidayah (permulaan), masafah (jarak/jalan), nihayah (penghujung). Orang yang berjalan (salik) harus memiliki “qut” (makanan utama), “kuah” (kekuataan) sebagai bidayah, agar ia mampu menempuh jarak sehingga sampai ke penghujung. Makanan utama itu ibadah, dan kekuatan itu mujahadah, ini yang dinamakan syari’ah.  Jarak itu adalah maqamat, ini dinamakan pula dengan tariqat. Sedangkan penghujung adalah musyahadah cahaya tajalli Allah, ini disebutkan sebagai haqiqat.
Peringkat pertama - Amal ibadat zahir, zuhud dan senantiasa berzikir. Ini untuk golongan murid yang awam dan semua umat Islam.
Peringkat kedua – amal batin dari mujahadah nafsu dan membersihkan akhlaq buruk serta menghiasinya dengan akhlaq yang mulia dan terutama. Ini untuk golongan yang bersungguh, dan permulaan salik. Allah berfirman, “dan orang-orang yang berjihad demi kami, maka kami akan tunjukkan mereka jalan-jalan kami” (an-Nazi’at, 40-41).
Peringkat ketiga – ahwal, maqamat, dan zhauq. Ini untuk golongan yang hampir sampai dan permulaan orang-orang ‘arifin. Orang yang sentiasa beribadah, dan mujahadah nafsu, akan menghaluskan hijab, dan memperkuatkan kekuasaan roh sehingga ia mendapatkan cahaya dihatinya dan melihat keindahan dan rahsia Allah. Kemudian dia akan merasakan kelazatan dan menjadi sifat serta maqam yang tetap, tidak berubah.
            Peringkat keempat – al wusul (sampai kepada Allah). Peringkat ini adalah golongan yang telah bebas daripada apa yang dicapai oleh inderanya. Dan telah sampai kepada martabat penyaksian Allah dengan Allah, perkara ini tidak dapat diungkapkan oleh kata-kata akan tetapi hanya difahami oleh diri yang merasainya, jika diungkapkan maka hilang maknanya. Ini adalah untuk golongan ‘arifin yang telah sampai.
Ketahuilah dua peringkat pertama, telah dijelaskan oleh al-Quran dan Hadith, batas-batasnya, methodnya, tidak perlu ditokok tambah.
Adapun peringkat ketiga, tidak dapat lagi digambarkan dan diungkapkan oleh kata-kata, kerana zhauq dan rasa tidak dapat dibatasi, ia hanya bersifat individual bukan awam, dan tidak jelas.
Sedangkan peringkat keempat, adalah satu tempat tergelincirnya kaki. Berapa banyak murid (salik) sesat dalam peringkat ini, inilah yang dikatakan untuk golongan yang sangat khusus.

Dua peringkat pertama adalah wajib, sedangkan dua peringkat kedua adalah pemberian daripada Allah S.W.T. Maka lakukanlah yang wajib, akan datanglah pemberian Allah kepadanya.

NATIJAH DAN BUAH BERTASAWUF
Ada dua natijah yang kita akan jelaskan disini:
Pertama - natijah salikin yang menempuh dua marhalah diatas, iaitu hasilnya adalah mendapat apa yang ada di dalam peringkat ketiga, ini adalah: iaitu ma’rifah, yang dirasakannya didalam bentuk muroqabbah, yakin, mahabbah, kasyaf, ilham, syuhud, dan karomah. Ini adalah penghujung salikin (murid).
Kedua – adapun natijah ‘arifin, orang yang telah menempuh dua peringkat yang akhir, permulaannya adalah dari peringkat ketiga, dan berakhir di peringkat keempat adalah, istiqamah dalam semua fenomena ma’rifah di atas, menjaga adab kepada Allah dan mendapatkan qabul serta redha dari Allah di dunia dan akhirat. Inilah tujuan yang tiada tandingannya.


PENUTUP

            Inilah tasawwuf yang diharapkan, tasawwuf yang difahami oleh orang-orang sufi sepanjang abad, jika tidak ada nilai-nilai serta realiti ini, maka dia telah menyimpang dari tasawwuf yang sebenarnya. Maka bagi para pengkritik tasawwuf, hendaklah meneliti kembali dengan cermat dan adil, serta menjaga haq dan takut kepada Allah sehingga tidak berbuat zalim dan sifat taksub dan berlebihan.





Rabu, 22 Disember 2010

PROFIL SEORANG PEJUANG











salam palestin..


Penulis tiba-tiba tergerak hati untuk berkonngsi dengan 
sahabat-sahabat sekalain tentang seorang sosok tubuh yang 
amat digeruni oleh musuh islam yang berfikiran liberal,berjiwa sekular,berotakkan KEBANGSAAN ,iaitu profesor tuan guru HAMKA....yang begitu tidak asing lagi di dunia nusantara tetapi semakin di lupakan manusia sekarang.Kata-katanya cukup bernas dan memberi kesan kepada aktivis-aktivis dakwah dan abnaulharakah.Hidup beliau juga penuh dengan ujian sebagai pejuang agama ALLAH.Tersangatlah rugi jika hidup ini tidak mengenali seorang ulama yang cukup berjasa dalam agama islam dan dekat dengan kita tentang jarak masanya dengan zaman sekarang.sama-samalah hayati karya-karya beliau yang masih ada waktu lagi untuk kita terjemahkan di dalam kehidupan kita.....



HAMKA (1908-1981), adalah akronim kepada nama sebenar Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah. Ia adalah seorang ulama, aktivis politik dan penulis Indonesia yang amat terkenal di alam Nusantara. Ia dilahirkan pada tanggal 17 Februari1908 di kampung Molek, Maninjau, Sumatera Barat, Hindia Belanda (saat itu). Ayahnya ialah Syeikh Abdul Karim bin Amrullah atau dikenali sebagai Haji Rasul, seorang pelopor Gerakan Islah (tajdid) di Minangkabau, sekembalinya dari Makkah pada tahun 1906.
Hamka mendapat pendidikan rendah di Sekolah Dasar Maninjau sehingga kelas dua. Ketika usia HAMKA mencapai 10 tahun, ayahnya telah mendirikan Sumatera Thawalib di Padang Panjang. Di situ Hamka mempelajari agama dan mendalami bahasa Arab. Hamka juga pernah mengikuti pengajaran agama di surau dan masjid yang diberikan ulama terkenal seperti Syeikh Ibrahim Musa, Syeikh Ahmad Rasyid, Sutan Mansur, R.M. Surjopranoto dan Ki Bagus Hadikusumo.
Hamka mula-mula bekerja sebagai guru agama pada tahun 1927 di Perkebunan Tebing TinggiMedan dan guru agama diPadang Panjang pada tahun 1929. Hamka kemudian dilantik sebagai dosen di Universitas Islam, Jakarta dan Universitas Muhammadiyah, Padang Panjang dari tahun 1957 hingga tahun 1958. Setelah itu, beliau diangkat menjadi rektor Perguruan Tinggi Islam, Jakarta dan Profesor Universitas Mustopo, Jakarta. Dari tahun 1951 hingga tahun 1960, beliau menjabat sebagai Pegawai Tinggi Agama oleh Menteri Agama Indonesia, tetapi meletakkan jabatan itu ketika Sukarno menyuruhnya memilih antara menjadi pegawai negeri atau bergiat dalam politik Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi).
Hamka adalah seorang otodidiak dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti filsafat, sastra, sejarah, sosiologi dan politik, baik Islam maupun Barat. Dengan kemahiran bahasa Arabnya yang tinggi, beliau dapat menyelidiki karya ulama dan pujangga besar di Timur Tengah seperti Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas al-Aqqad, Mustafa al-Manfaluti dan Hussain Haikal. Melalui bahasa Arab juga, beliau meneliti karya sarjana Perancis, Inggris dan Jerman seperti Albert CamusWilliam JamesSigmund FreudArnold ToynbeeJean Paul Sartre,Karl Marx dan Pierre Loti. Hamka juga rajin membaca dan bertukar-tukar pikiran dengan tokoh-tokoh terkenal Jakarta seperti HOS Tjokroaminoto, Raden Mas Soerjopranoto, HajiFachrudin, AR Sutan Mansur dan Ki Bagus Hadikusumo sambil mengasah bakatnya sehingga menjadi seorang ahli pidato yang handal.
Hamka juga aktif dalam gerakan Islam melalui organisasi Muhammadiyah. Ia mengikuti pendirian Muhammadiyah mulai tahun 1925 untuk melawan khurafat, bidaah, tarekat dan kebatinan sesat di Padang Panjang. Mulai tahun 1928, beliau mengetuai cabang Muhammadiyah di Padang Panjang. Pada tahun 1929, Hamka mendirikan pusat latihan pendakwah Muhammadiyah dan dua tahun kemudian beliau menjadi konsul Muhammadiyah di Makassar. Kemudian beliau terpilih menjadi ketua Majlis Pimpinan Muhammadiyah di Sumatera Barat oleh Konferensi Muhammadiyah, menggantikan S.Y. Sutan Mangkuto pada tahun 1946. Ia menyusun kembali pembangunan dalam Kongres Muhammadiyah ke-31 di Yogyakarta pada tahun 1950.
Pada tahun 1953, Hamka dipilih sebagai penasihat pimpinan Pusat Muhammadiah. Pada 26 Juli 1977, Menteri Agama Indonesia, Prof. Dr. Mukti Ali melantik Hamka sebagai ketua umum Majlis Ulama Indonesia tetapi beliau kemudiannya meletak jawatan pada tahun 1981 karena nasihatnya tidak dipedulikan oleh pemerintah Indonesia.
Kegiatan politik Hamka bermula pada tahun 1925 ketika beliau menjadi anggota partai politik Sarekat Islam. Pada tahun 1945, beliau membantu menentang usaha kembalinya penjajah Belanda ke Indonesia melalui pidato dan menyertai kegiatan gerilya di dalam hutan di Medan. Pada tahun 1947, Hamka diangkat menjadi ketua Barisan Pertahanan Nasional, Indonesia. Ia menjadi anggota Konstituante Masyumi dan menjadi pemidato utama dalam Pilihan Raya Umum 1955. Masyumi kemudiannya diharamkan oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1960. Dari tahun 1964 hingga tahun 1966, Hamka dipenjarakan oleh Presiden Sukarno karena dituduh pro-Malaysia. Semasa dipenjarakanlah maka beliau mulai menulis Tafsir al-Azhar yang merupakan karya ilmiah terbesarnya. Setelah keluar dari penjara, Hamka diangkat sebagai anggota Badan Musyawarah Kebajikan Nasional, Indonesia, anggota Majelis Perjalanan Haji Indonesia dan anggota Lembaga Kebudayaan Nasional, Indonesia.
Selain aktif dalam soal keagamaan dan politik, Hamka merupakan seorang wartawan, penulis, editor dan penerbit. Sejak tahun 1920-an, Hamka menjadi wartawan beberapa buah akhbar seperti Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam dan Seruan Muhammadiyah. Pada tahun 1928, beliau menjadi editor majalah Kemajuan Masyarakat. Pada tahun 1932, beliau menjadi editor dan menerbitkan majalah al-Mahdi di Makasar. Hamka juga pernah menjadi editor majalah Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat dan Gema Islam.
Hamka juga menghasilkan karya ilmiah Islam dan karya kreatif seperti novel dan cerpen. Karya ilmiah terbesarnya ialah Tafsir al-Azhar (5 jilid) dan antara novel-novelnya yang mendapat perhatian umum dan menjadi buku teks sastera di Malaysia dan Singapura termasuklah Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Di Bawah Lindungan Kaabah dan Merantau ke Deli.
Hamka pernah menerima beberapa anugerah pada peringkat nasional dan antarabangsa seperti anugerah kehormatan Doctor Honoris Causa, Universitas al-Azhar, 1958; Doktor Honoris Causa, Universitas Kebangsaan Malaysia, 1974; dan gelar Datuk Indono dan Pengeran Wiroguno dari pemerintah Indonesia.
Hamka telah pulang ke rahmatullah pada 24 Juli 1981, namun jasa dan pengaruhnya masih terasa sehingga kini dalam memartabatkan agama Islam. Ia bukan sahaja diterima sebagai seorang tokoh ulama dan sasterawan di negara kelahirannya, malah jasanya di seluruh alam Nusantara, termasuk Malaysia dan Singapura, turut dihargai.

Jumaat, 17 Disember 2010

DA'EI YANG MALANG

         





           Assalamualaikum,penulis muncul kembali dengan tajuk yang agak penting supaya di kongsi bersama mutiara tazkirah untuk menjadikan kita hamba ALLAH yang benar-benar beriman.SAMA-SAMA KITA MUHASABAH KHUSUS UNTUK PARA DA'EI........


Memang fitrah setiap manusia cukup senang dan puas hati kiranya ada orang memujinya seperti, "Awak ni, baiklah" dan sebagainya. Tetapi, bagaimana pula kalau sebaliknya? Tentu ramai yang tidak senang hati dan sekaligus menganggap orang yang tidak memujinya itu adalah musuhnya. 

Nampaknya kebanyakan manusia hari ini terlalu ghairah dan leka dengan pujian dan sanjungan sedangkan itu semua merupakan satu jalan yang memudahkan seseorang itu terjun ke neraka Allah swt. Wal iyazubillah. Lebih parah lagi, ada di antara manusia hari ini merasakan dirinya baik, malah lebih baik dan lebih mulia daripada orang lain. 

Atas alasan dan perasaan demikianlah mereka kini menilik kelemahan orang lain, selalu menganalisa orang lain, selalu nampak kesalahan orang dan selalu merasakan orang lain dalam dosa dan noda. Alangkah tertipunya mereka yang bersikap demikian tanpa mereka sedari rupa- rupanya sifat sombong dan angkuh menguasai diri dan jiwa mereka. Ia kini telah berjaya diperdayakan oleh nafsu ammarahnya. 

Jalan yang selamat untuk menjaga amal ibadah yang telah dilakukan sekian lama seperti sembahyang, puasa, sedekah, menutup aurat dan sebagainya ialah dengan memiliki sifat-sifat yang terpuji, umpamanya seringkali merasakan diri bergelumang dengan dosa dan maksiat, sering merasakan ia melakukan kesilapan dan kesalahan samada sesama makhluk mahupun dengan Allah. 

Sikap selalu menganalisa diri sendiri dan merenung keaiban diri (muhasabah diri), itu adalah satu sikap yang sewajarnya dimiliki oleh hamba-hamba Allah yang cintakan Allah, yang kasihkan Rasulullah, yang rindukan syurga Allah dan yang gerunkan Neraka Allah swt. 

Jangan sekali-kali termasuk ke dalam golongan orang yang mengaku dirinya sudah baik tetapi jadilah orang yang bercita-cita untuk membuat kebaikan sebanyak yang mungkin, selalulah merasakan diri tidak baik lagi dan paling tidak sempurna amal dan tingkahlaku jika dibandingkan dengan orang lain. 

Untuk meningkatkan keimanan dan keyakinan pada Allah swt dari satu waktu ke satu waktu, muhasabah diri adalah suatu perkara yang sangat bernilai dan penting sekali. Kita sepatutnya seringkali mengukur sejauh mana ketaatan yang telah kita lakukan terhadap Allah dan dosa apakah yang kerapkali kita lakukan terhadap-Nya. 

Bagi hamba Allah yang benar-benar waras fikirannya ia jarang sekali menyalahkan orang lain sekiranya ia dipersalahkan. Andainya ia benar- benar bersalah ia akan bertaubat dan membuat perubahan diri, sekiranya ia tidak bersalah ia berlapang dada dan berkata kepada hati kecilnya, "Tak apalah, ini ujian untukku dan mungkin ini suatu penghapusan dosa buatku." Bagi orang yang rosak hatinya, sekiranya ia melakukan kesalahan ia takut untuk mengatakan yang hak, ia tidak mahu mengakui bahawa dirinya bersalah dan ia tetap mempertahankan bahawa dirinya tidak pernah menyakiti hati orang lain. Ingatlah, hati yang tidak baik akan melahirkan kelakuan yang buruk, ianya akan menjadi racun dalam hidup dan membahayakan masyarakat serta alam sejagat. 

Masalah hati tiada siapa yang tahu seperti kata pepatah, ;Dalam laut dapat diduga, dalam hati siapa yang tahu.; Yakinlah bagaimana pandainya manusia menutupi kejahatan hatinya, lambat laung Allah akan menampakkan juga apa yang tersimpan dalam lubuk hatinya. Seseorang itu tidak layak mendapat gelaran hamba Allah yang baik dan yang suci hatinya selagi ia: 

1. Tidak mentaati titah perintah Allah sungguh-sungguh.
2. Tidak meninggalkan larangan-larangan Allah
3. Tidak menghiasi diri dengan sifat-sifat terpuji.
4. Tidak mengikiskan diri daripada sifat-sifat tercela. 

Bercita-citalah kita untuk menjadi hamba yang baik sesuai dengan tuntutan-Nya dan Rasul-Nya. Baik dari segi amal dan kelakuan, baik hati dan halus tuturkata sesama insan. Hendaklah berusaha sedaya upaya menghapuskan penyakit hati yang merosakkan diri seperti hasad dengki, pemarah, iri hati, jahat sangka dan sebagainya. Beramallah semata-mata mengharapkan redha Allah bukan untuk riak dan sombong. 

Jagailah lidah kita daripada mengeluarkan tuturkata yang dapat mencacatkan persahabatan dan tali persaudaraan. Jagailah tuturkata agar ianya tidak melukai hati orang lain. Ingatlah ; tuturkata yang mengandungi racun yang berbisa seperti melemparkan fitnah, memperli dan menyindir orang lain, mencari-cari kesilapan orang lain untuk dijadikan bahan yang membolehkan dirinya dapat mengambil keuntungan dan publisiti di dalamnya, mestilah dijauhi. 

Firman Allah dalam Surah Fussilat ayat 46, maksudnya:

"Barangsiapa yang mengerjakan amal yang baik, maka kebaikan itu untuk dirinya sendiri. Barangsiapa yang berbuat jahat maka kejahatannya itu untuk dirinya sendiri dan sekali-kali tidaklah Tuhanmu menganiayai hambanya.; Oleh itu, berazamlah kita semua termasuklah saya sendiri untuk menjadi hamba Allah yang baik, yang mulia di sisinya kelak, dan bercita-citalah mengatur langkah untuk terus memburu kasih sayang dan redha Allah. Semoga Allah menerima kita semua sebagai hamba-hambanya yang berhak mendapat kedudukan yang mulia di sisi Nya kelak. ".

Selasa, 14 Disember 2010

PEDANG MUROBBIKU

        







                  Assalamualaikum,pertama sekali marilah sama-sama kita merafa'kan kesyukuran kepada ALLAH kerana diberi nikmat iman dan islam kerana jika tidak dengan dua anugerah ini maka tidak tergeraklah jari jemari untuk berzikir,mulut untuk membaca quran,kaki ke masjid dan seterusnya.


              kali ini penulis ingin berkongsi dengan sahabat-sahabat sekalian tentang cara ana menulis blog ana ni.Ana baru sahaja menjejaki dalam alam blog ni dan baru nak menjadi penulis daie dalm alam yang maya yang kita tidak tahu secara zohir siapa gerangan penulis ni.,ingat lg kata-kata seorang ulama iaitu ramai orang pandai dan mahir menulis,menggunakan ayat-ayat yang mantap,sastera yang tinggi ,makna yang mendalam tetapi mereka ini tidak jujur di dalam penulisan mereka.mkusudnya mereka pandai menulis dan bercakap tetapi tidak melaksanakan apa yang mereka katakan dan mungkin mereka tidak jujur dengan mengambilan sumber  rujukan mereka.


           Apa-apa perkongsian dalam blog ini ,semua datang dari hati ana sendiri supaya untuk berkongsi dengan sahabat-sahabat sekalian yang selama ini terpendam di jiwa yang berkarat ini..mungkin jugak perkongsian   dan cara ana nak sampaikan ini banyak dipengaruhi oleh murobbi ana ustaz zainol asri (Dewan Ulama PAS Kedah) .Ana tidak pernah jumpa ustaz sepertinya yang mengajar sambil mendidik jiwa yang rakus ini.Beliaulah yang mengajar erti usroh,tarbiyah,tamrin,dan sebagainya sewaktu di maahad mahmud alor star.Ingat lagi kata-kata ustazku yang sangat terkesan dan mungkin menjadi azimat sampai aku mati ,"zaman la ni orang ramai nak berdakwah,ada yang pandai berceramah la ,pandai cakap,pandai rancang program la,siasah cukup hebat,tapi tarbiyah kosong apa pon tak dak,bohong ja semua tu,hampa nak berjuang ni nak tunjuk kat sapa,kalau hampa ambil tentang tarbiyah maka benda lain akan ikut sekali...".,.,aduh kata- kata tu cukup penulis pengang dan menjadi idola sepanjang perjalanan dakwah ni.


            Diri yang lemah ini baru lagi nak try dalam blog ni dan pasti dan mesti banyak kelemahan .Segala teguran dan tamparan yang membina sangat di alu-alukan.Ana pun masih terlalu lemah dan banyak kelemahan dalam mendidik hati,jiwa,perasaan n supaya betul-betul menjadi hamba ALLAH yang bertaqwa.,segala tunjuk ajar dari sahabat sekalian sangat di perlukan.Akhir kata jazakaALLAH...


wasalam


9.21 mlm (malam periksa)
mataam syuruk,mutah jordan

Ahad, 12 Disember 2010

SEJENAK BERSAMA HIKAM





Seorang lelaki bertanya kepada Junaid as;
Apakah ilmu yang paling berguna? Jawabnya, “Ilmu yang menunjukkan kamu kepada Allah swt dan menjauhkan kamu daripada menurut hawa nafsumu.”
Kita perlu mencari ilmu yang menyampaikan diri kita kepada Allah. Ilmu yang dipelajari perlu diamalkan. Dalam ilmu tasawwuf, ilmu itu perlu diamalkan kerana tanpa amalan, maksud ilmu tidak akan sampai kedalam diri. Bacalah sebanyak mana buku pun tetapi jika tidak beramal maka ia tetap tidak akan berhasil. Orang yang membaca kitab zikir tetapi tidak mempraktikkannya maka sia-sia sajalah kitab yang dibacanya itu. Ahli tasawuf mencari ilmu disebelah siangnya dan beramal disebelah malamnya. Adab dalam mempelajari sesuatu ilmu ialah kita tidak boleh menyalahkan orang lain sekiranya ilmu kita masih belum cukup dan mempelajari sesuatu ilmu itu hendaklah dilakukan secara bertahap (peringkat demi peringkat).
Kata Syeikh, ilmu lain seperti ilmu fiqh tidak boleh dipelajari jika diri tidak bersedia dengan ilmu itu. Ini adalah kerana ilmu ini akan mendatangkan bala kepada si penuntutnya jika ia tidak bersedia menguasai dirinya di landasan yang betul. Orang yang tidak bersedia dengan ilmu ini akan didatangkan sifat takabbur dalam diri kerana apabila mempelajari ilmu ini, ia akan sentiasa berasa dirinya lebih hebat dari orang lain. Apatah lagi apabila ia berjaya mematahkan hujah atau debat orang lain apabila mengeluarkan sesuatu hukum atau pandangan lalu ia sebenarnya telah dikuasai oleh nafsu dan syaitan dan mula bermegah-megah dengan dirinya sendiri. Imam Malik jika dalam soal ilmu fih amat pantang sekali ditanya oleh orang lain yang memulakan soalan dengan “Jika diandaikan….”. Kata Imam Malik, “Inilah kerja ahli fiqh yang suka melebih-lebihkan dalil-dalil dan andaian.” Tambah Imam Malik, “Aku lebih suka jika yang bertanya itu melebihkan zikir dan bertasbih dari bertanya soalan yang bukan-bukan.”
Belajar fiqh memerlukan kekuatan mental untuk mengelakkan diri dari dipengaruhi oleh sikap takabbur. Selain itu, orang yang belajar ilmu fiqh perlu berhati-hati ketika mengeluarkan pendapat dan tidak boleh dikuasai denganpemikiran mereka sendiri yang kelak boleh membinasakan umat. Sebab itu disarankan agar kita membuat persiapan diri untuk belajar ilmu mengenal Allah terlebih dahulu. Selain ilmu fiqh, ilmu hadith juga bukanlah ilmu yang mudah untuk dikuasai. Bahkan dikalangan para sahabat bukan semua sahabat yang berjaya menghimpunkan kesemua hadith Nabi saw. Ini adalah kerana ada sahabat yang hanya bersama Nabi saw disebelah siang sahaja manakala ada sahabat yang berada bersama Nabi saw pada masa-masa tertentu sahaja. Dikalangan isteri baginda saw, Aisyah ra[1] adalah merupakan periwayat hadith dikalangan wanita yang paling banyak meriwayat hadith. Walaubagaimanapun, hadith yang diriwayat Aisyah ra kebanyakannya adalah berkenaan dengan pekerjaan dan pengucapan Nabi saw ketika berada dirumah bukannya di luar rumah. Justeru, ada hadith ketika Nabi saw berada di luar rumah tidak diriwayat oleh Aisyah ra. Rasulullah saw selepas bermusafir dan pulang ke Madinah tidak akan terus kembali ke rumahnya sebaliknya akan menunaikan solat terlebih dahulu di Masjid Nabawi dan berjumpa dengan para sahabatnya. Setelah menyelesaikan urusan umatnya, barulah baginda saw pergi kerumah anaknya, Fatimah ra untuk bertanyakan khabar mereka sekeluarga.[2] Selepas itu, barulah baginda saw berjumpa dengan para isterinya. Contoh bagaimana ada hadith yang pernah didengar oleh sesetengah sahabat tetapi tidak pada sahabat lain ialah kisah Abu Bakar ra dengan Fatimah ra. Selepas Nabi saw wafat, Fatimah datang menuntut harta peninggalan Rasulullah saw dari Abu Bakar. Abu Bakar menolak permintaan Fatimah menyebabkan Fatimah terkilan dan diriwayatkan oleh ahli sejarah bahawa semenjak peristiwa itu Fatimah tidak pernah bertegur sapa dengan Abu Bakar sehinggalah beliau wafat enam bulan selepas kewafatan ayahandanya, Rasulullah saw. Abu Bakar tidak memenuhi permintaan Fatimah kerana beliau patuh kepada hadith Nabi saw yang menyatakan bahawa harta yang ada tidak boleh diberikan kepada ahli keluarganya. Sabda Nabi saw, “Tidak boleh waris dan mewarisi dan apa yang ditinggalkan adalah sedeqah.” Kenapa Nabi saw menyebut sedeqah? Ini adalah kerana Nabi saw hanya “wafat” pada zahirnya sedangkan hakikatnya Nabi saw tidak wafat sebaliknya hanya berpindah dari alam fana’ kea lam baqa’. Inilah perkara yang gagal difahami oleh sesetengah orang. Sebab itu, tidak ada iddah bagi isteri-isteri Nabi saw dan mereka kekal menjadi isteri Nabi saw selama-lamanya. Mereka diharamkan berkahwin selepas kewafatan Nabi saw kerana Nabi saw bukannya “wafat” tetapi hanya “berpindah”. Kewafatan Nabi saw tidak sama seperti manusia biasa. Jasad Nabi saw tidak terjejas bahkan berbau harum walaupun selepas dua hari baginda saw meninggalkan alam fana’.[3] Tentang hadith tersebut, Fatimah tidak pernah mendengarnya sebaliknya Abu Bakar telah diwasiat oleh Rasulullah saw. Walaubagaimanapun, kisah ini telah dijadikan hujah oleh puak syiah yang menyatakan bahawa sahabat telah mengkhianati keluarga Rasulullah saw.
Ilmu yang bermanfaat juga ialah ilmu yang menunjukkan pemiliknya kepada sifat tawadhu’, sentiasa bermujahadah, menjaga sir (rahsia), muraqabah zahir, takut kepada Allah, berpaling daripada dunia dan penuntutnya, memencilkan dunia, menjauhi orang-orang yang mengasihi dunia, suka memberi nasihat kepada makhluk, baik perilaku terhadap makhluk, suka duduk bersama golongan fuqara’, memuliakan wali-wali Allah dan menghadapkan diri kepada apa yang mereka utamakan.Kata Ibn Atoillah, Sesiapa yang melihat rahsia hamba Allah tetapi mereka belum berakhlak dengan akhlak Rahman maka apa yang dilihat itu akan mendatangkan fitnah dan bala kepada mereka yang belum diketahui akhir hujung mereka.
Kata syeikh, orang yang suka mendoakan kebinasaan orang lain adalah orang yang belum mencapai tahap akhlak Rahman walaupun dia seorang ulama besar dari segi zahirnya. Mana mungkin seseorang yang bergelar ulama tergamak mendoakan kebinasaan orang lain sedangkan beliau sendiri belum pasti bahawa kemungkinan orang yang didoakannya itu akan bertaubat kemudian hari atau bertaubat sebelum ia mati.
Wali-wali Allah kebanyakannya kasyaf. Mereka dibukakan hijab oleh Allah Ta’ala tetapi mereka tidak pernah mendoakan kebinasaan orang lain sebaliknya membantu memberi peringatan kepada mereka. Seorang wali Allah bernama Syeikh Abdul Salam al-Fadhl al-Hasani ketika sedang membaca khutbah terpandang seorang lelaki muda masuk kedalam masjid. Apabila kelibat lelaki itu masuk kedalam masjid, Syeikh Abdul Salam terus menukar tajuk topik khutbah kepada peringatan tentang keutamaan mengerjakan solat subuh dan dosa sekiranya meninggalkan solat subuh. Rupanya Syeikh Abdul Salam dapat membaca isi hati pemuda itu yang telah terlajak waktu subuh hari itu.
Tentang perihal melihat aib orang lain, Nabi saw pernah berdoa agar aib umatnya tidak diperlihatkan kepada orang lain sebaliknya cukuplah hanya Allah Ta’ala, baginda saw dan si pelaku itu sahaja yang mengetahuinya. Lalu Allah Ta’ala berfirman, Sesungguhnya mereka adalah umat engkau dan mereka adalah hamba Aku. Oleh itu, ia (aib) adalah antara Aku dengan dia sahaja sebab Aku yang paling kasih pada mereka. Dengan sifat Rahman, Allah Ta’ala tidak menzahirkan aib pada orang lain.
Tokoh-tokoh besar tasawwuf bukanlah orang yang meninggalkan urusan dunia. Junaid al-Baghdadi yang digelar penghulu ahli tasawwuf yang wafat ketika sedang membaca al-Quran adalah seorang pengeluar kaca yang sangat terkenal di seluruh Baghdad. Beliau membekalkan kaca untuk keperluan penduduk Baghdad pada waktu itu. Pekerjaan beliau ini jelas menunjukkan bahawa beliau tidak memencilkan diri dari masyarakat dan tasawwuf itu juga bukanlah dengan hanya duduk bertasbih sebaliknya urusan dunia dan akhirat itu perlu diseimbangkan. Sebelum beliau memulakan pekerjaannya, beliau akan menurunkan sedikit tirai di biliknya bagi membolehkan dirinya menunaikan solat sunat terlebih dahulu. Lazimnya beliau akan menunaikan solat sebanyak 400 rakaat sebelum memulakan kerjanya.
Kata syeikh sebelum mengakhiri majlis, apabila kita sayang pada seseorang itu maka gugurlah adabnya. Nabi saw sangat sayang kepada hamba yang juga merupakan anak angkatnya iaitu Zaid bin Harithah. Hubungan antara Nabi saw dengan Zaid sangat rapat kerana Nabi saw sangat sayangkan kepadanya. Begitu juga dengan anak Zaid iaitu Usamah dimana Nabi saw sangat sayang kepadanya. Kata Syeikh, Usamah ini kulitnya hitam sedangkan ayahandanya berkulit putih. Dalam satu peristiwa Nabi saw hendak bertolak ke Mudzalifah, Nabi saw tidak berangkat selagi Usamah tidak menunjukkan mukanya. Apabila Usamah muncul barulah Nabi saw bertolak ke Mudzalifah. Ketika Usamah muncul, ada yang berbisik-bisik menyatakan kenapa Rasulullah saw beria-ria menunggu budak kecil yang berkulit hitam ini. Hal itu telah menyinggung perasaan Rasulullah saw kerana Rasulullah saw sangat menyayangi keluarga Zaid. Sebab itu kata Syeikh, sesiapa yang membenci kekasih Kekasih Allah maka dia membenci Kekasih Allah. Oleh itu berhati-hatilah dan jagalah percakapan kita kerana orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya akan diazab di dunia dan di akhirat.


[1] Aisyah ra merupakan wanita yang paling cerdik dizamannya. Nabi saw menggelarnya ‘orang yang diberi taufik oleh Allah Ta’ala”
[2] Adab yang diajar oleh Nabi saw iaitu seorang suami/bapa hendaklah mengambil berat terhadap anaknya terlebih dahulu baru isterinya kerana hubungan bapa dengan anak tidak akan terputus sampai bila-bila
[3] Nabi saw wafat pada hari Isnin dan dimaqaman pada hari Rabu


Selasa, 7 Disember 2010

UNTUKMU SUFI HARAKI

ASSALAMUALAIKUM,kali ini penulis mahu berkongsi satu pengisian yang  cukup penting kepada manusia untuk menjadi hamba ALLAH yang bertaqwa,pejuang islam yang bergelar sufi,dan sufi menjadi haraki,mudahan-mudahan dengan perkongsian yang sedikit ini dapat  menjadi satu amalan yang yang menolong kita di padang mahsyar nanti,insyaALLAH.

TARBIYAH RUHIYAH:



Sebelum membaca artikel ini, saudara perlu tahu;

1 ) Kedudukan tarbiyah ruhiyah di dalam Islam.
2 ) Matlamat dan tujuan utama penyucian hati.
3 ) Kaedah dan syarat penyucian hati.
4 ) Kewajiban melaksanakan program penyucian hati.


Muqaddimah:

Tarbiyah ruhiyah adalah satu proses pemeliharaan kesucian diri atau proses pengembalian... kesucian diri atau menambah sinaran cahaya kesucian dalam usaha mencapai kejayaan menuju Allah subhanahu wa taala.

Firman Allah taala yang bermaksud;

“ 7. Demi diri (nafs) manusia dan yang menyempurnakan kejadiannya (dengan kelengkapan yang sesuai dengan keadaannya).

8. Serta mengilhamkannya (untuk mengenal) jalan yang membawanya kepada kejahatan, dan yang membawanya kepada ketaqwaan.

9. Sesungguhnya berjayalah orang yang menjadikan dirinya - yang sedia bersih - bertambah-tambah bersih (dengan iman dan amal kebajikan),

10. Dan sesungguhnya musnahlah orang yang menjadikan dirinya - yang sedia bersih - itu terbenam kebersihannya (dengan sebab kekotoran syirik dan maksiat).”
Surah al Syams: 7-10

Tarbiyah ruhiyah adalah asas kepada seluruh program tarbiyah Islamiyah. Ini kerana Islam mengajar dan mendefinisikan segala kebahagian manusia di dunia dan akhirat mestilah bermula daripada hati yang sejahtera daripada sebarang penyakit dan kecacatan.

Justeru kejayaan individu muslim dan gerakan Islam di dalam semua bidang adalah bergantung dan terikat dengan kesungguhan dan keutamaan yang diberikan kepada program ‘kembali kepada hati’ seperti yang diajar oleh al Rasul sallaLlahu alaihi wasallam. 

Visi Tarbiyah Ruhiyah:

Mencapai kejayaan dalam hidup menuju Allah subhanahu wa taala ( al-Muflihuun ).

Misi Tarbiyah Ruhiyah:

Menjadi hamba yang mampu melaksanakan perintah Allah subhanahu wa taala dan meninggalkan segala laranganNya ( al-Muttaqiin ) atau dengan kata lain menjadi hamba yang berupaya membina Islam di dalam diri, keluarga, masyarakat dan negara.


Matlamat:

Menggolongkan diri sebagai hamba yang hampir dengan Allah subhanahu wa taala (al-Muqarrabiin) bagi memperolehi apa yang diingini dan mendapat perlindungan hakiki daripadaNya.

Objektif:

A ) Memindahkan nafsu yang kotor ( bergelumang dengan syahwat atau keinginan selain Allah ) agar menjadi jernih ( suci ikhlas hanya kepada Allah ).
B ) Mengubah cara berfikir tidak syar ‘ie menjadi syar’ie
C ) Menukar hati yang kufur, munafik, fasik dan keras menjadi sejahtera dan tenang.

Kaedah Tarbiyah Ruhiyah:

Oleh kerana permasalahan ruh adalah rahsia Allah, maka pembinaannya mestilah sepenuhnya bergantung kepada petunjuk daripadaNya melalui pengajaran RasuluLlah sallaLlahu alaihi wasallam. Justeru penyucian jiwa dengan kaedah yang tidak digali daripada al Quran dan al sunnah adalah tertolak dan akan membawa kepada kesesatan yang nyata.

Usaha pemindahan, perubahan dan penukaran tersebut tidak akan berlaku melainkan mestilah melalui kaedah mujahadah, sebagaimana penegasan Allah subhanahu wa taala dalam firmanNya yang bermaksud;

“69. Dan orang-orang yang berusaha dengan bersungguh-sungguh kerana memenuhi kehendak ugama kami, Sesungguhnya Kami akan memimpin mereka ke jalan-jalan Kami dan Sesungguhnya (pertolongan dan bantuan) Allah adalah berserta orang-orang Yang berusaha membaiki amalannya.”
Surah al Ankabut;69

Mujahadah adalah wasilah untuk mendapat penyuluh hati menuju Allah dan hidayah yang merupakan permulaan ( muqaddimah ) bagi memperolehi sifat taqwa.

Kedua - duanya iaitu mujahadah dan hidayah tidak akan sempurna melainkan dengan persetujuan ( taufiq ) dan pertolongan (inayah) Allah subhanahu wa taala.

Peringkat Mujahadah:

A ) Penyucian daripada kufur dan syirik

Penyucian daripada kufur dan syirik dengan iman dan tauhid serta pengakuan bahawa nabi Muhammad sallaLlahu alaihi wasallam itu pesuruh Allah. Bagi meningkatkan iman hendaklah sentiasa menambah ilmu dan mempertingkatkan zikir ( dua rukun perjalanan menuju Allah ).

o untuk meningkatkan makrifat kepada Allah

o untuk meningkatkan rasa takut dan gerun kepada Allah (taqwa)

o untuk meningkatkan kesungguhan amal (mujahadah kedua) sehingga sanggup mengorbankan apa saja demi Allah swt.

B ) Penyucian daripada dosa - dosa

Penyucian daripada dosa - dosa dengan melaksanakan furudh al wakti ( kefardhuan semasa ) dan adab - adabnya serta meninggalkan muharramat wa makruhaat dan adab-adab waktu yang wajib ditunaikan.

C ) Melaksanakan ibadat – ibadat nawafil

Melaksanakan ibadat - ibadat nawafil bagi menambahkan lagi sinar cahaya kesucian menuju Allah subhanahu wa taala.

Rukun Mujahadah:

A ) al-Uzlah ( menyendiri )
Hukum asal uzlah adalah harus bagi mereka yang telah tertunai kewajipan semasa baginya. Tetapi sekiranya uzlah ini mampu memberi maslahah kepada diri seperti meningkat keimanan, menjauhkan daripada sesuatu yang haram dan mampu menguatkan diri bagi melaksanakan sesuatu kewajipan, maka hukumnya meningkat lebih daripada harus.

Uzlah boleh berlaku dalam dua keadaan samada dengan mengasingkan diri secara langsung beberapa ketika daripada orang ramai atau secara tidak langsung dengan mengasingkan jiwa sahaja beberapa ketika sedangkan diri tetap bersama masyarakat.

Bagi menyempurnakan mujahadah membina roh yang suci, asingkanlah diri beberapa ketika ( minit ) bertafakkur untuk bersama Allah swt.

B ) al-Shamt ( diam )
Sabda Rasulullah sallaLlahu alaihi wasallam yang bermaksud:
“Sekiranyalah kamu tidak mengotori hati - hati kamu dan kamu tidak berlebih - lebihan dalam percakapan kamu, nascaya kamu akan dapat mendengar apa yang aku dengar.”
Diriwayatkan oleh al Imam Ahmad.

Kerana itu, berdiam diri merupakan rukun mujahadah untuk menyuci roh dan membuang segala hijab - hijab di perjalanan menuju Allah taala.

Berdiam diri yang dimaksudkan di sini adalah daripada sesuatu yang tidak perlu. Adapun berkata – kata dalam hal yang fardhu atau wajib, maka tidak boleh berdiam diri darinya.

C ) al-Juu` ( berlapar )
Rasulullah sallaLlahu alaihi wasallam bersabda dengan maksudnya:
“Hendaklah kamu sentiasa murung ( sedih ). Sesungguhnya ia merupakan kunci pembuka hati. Lalu para sahabat bertanya, wahai Rasulullah, bagaimanakah keadaan murung tersebut? Baginda bersabda: Hinakan ( letihkan ) diri kamu dengan berlapar dan mendahagakannya”
Riwayat al-Tabrani.

Bermujahadah dengan cara berlapar merupakan salah satu rukun yang ampuh untuk merawat hati dan menyegarkannya. Oleh kerana itu, berlaparlah untuk beberapa masa dalam sehari dan berpuasalah beberapa hari dalam sebulan ( 3 hari ).

D ) al-Sahar ( berjaga malam )
Tanpa penentuan masa tidurnya dengan terurus, seseorang muslim boleh mengabaikan banyak urusan penting dalam hidupnya, seperti solat Subuh berjemaah, beristighfar waktu sahur, berqiamullail dan tahajjud, solat isya` berjemaah, berwirid selepas Subuh, membaca al-Quran sebelum fajar dan banyak lagi akan terjejas akibat tidak terurusnya tidur seseorang manusia.

Agar urusan - urusan penting tersebut tidak terabai, seseorang muslim perlu menyusun tidurnya dan menetapkan sebahagian waktu malamnya untuk menunaikan urusan - urusan tersebut, supaya tidak tergolong daripada kalangan mereka yang rugi.

Kekuatan Yang Diperlukan Untuk Mujahadah

A ) Ilmu dan Zikir
Ilmu ketuhanan ( makrifat ) dengan membaca ayat - ayat keagongan dan kekuasaan Allah dalam al-Quran dan juga dengan bertafakkur terhadap ayat - ayat kauniyah yang terbentang di alam semesta dan meningkatkan zikruLlah untuk meresapkan keagongan kekuasaan Allah subhanahu wa taala ke dalam diri sehingga menjiwai dan merasai ma`iyatullah.


B ) Ilmu dan Ta`ammul
Ilmu syariah bersumberkan wahyu yang akan mengawal system nilai seseorang hamba dengan batasan ketuhanan tanpa sebarang campur aduk unsur2 luar yang bertentangan dengan ruh syariah tersebut (maqasid syariah) & Sentiasa meneliti (mentaammul) rahsia2 syariah bagi menepati setiap hukum untuk diperundangan atau dilaksanakan dengan penuh hikmah kebijaksanan.


C ) Ilmu dan Amal
Ilmu hal ehwal kesihatan hati ( sihat atau sakitnya ) dan mengetahui perkara - perkara yang menyihatkan hati dapat membantu peningkatan amal dalam diri bagi menyuburkan akhlak terpuji. Adapun mengetahui jenis - jenis penyakit hati boleh membantu mendapatkan rawatan dan meninggalkan sesuatu amal buruk menjadi perosak kepada keperibadian manusia.

PREPARE TO MAHSYAR ©Template Blogger Green by Dicas Blogger.

TOPO